Enam Kali Mencoba, Baru Tuhan Membuka Jalan: Kisah Agil Pakaya Menjadi Prajurit TNI

Bagikan Berita ini

PILARBMR.COM, BOLSEL – Ada perjuangan yang tidak selalu terlihat oleh mata. Ada keringat yang tidak pernah diceritakan, ada air mata yang sengaja disembunyikan, dan ada doa-doa panjang yang hanya Tuhan yang tahu.

Itulah yang dirasakan Kusmawandi Pakaya dan Etaherawati Laise, kedua orang tua dari Agil Kurniawan Pakaya, seorang anak yang kini telah berhasil mewujudkan impiannya menjadi prajurit TNI dengan pangkat Prajurit Dua (Prada).

Namun, keberhasilan itu tidak datang dengan mudah.
Di balik seragam loreng yang kini dikenakan Agil, tersimpan perjalanan panjang yang penuh jatuh bangun. Sebuah perjuangan yang bahkan harus ditempuh berkali-kali.

Agil pernah mencoba masuk Kepolisian sebanyak dua kali. Setelah itu, perjuangannya berlanjut melalui seleksi TNI. Pada 2024 ia kembali mencoba, kemudian pada 2025 perjuangan itu dilanjutkan hingga tiga kali.

Secara keseluruhan, enam kali perjuangan ditempuh untuk menjadi abdi negara, dua kali melalui jalur Kepolisian dan empat kali melalui jalur TNI.

Bagi sebagian orang, kegagalan berkali-kali mungkin dianggap sebagai tanda untuk berhenti.

Tetapi bagi Kusmawandi, ayah Agil, kegagalan bukan alasan untuk mengubur impian anaknya.

Ada tekad yang terus ia genggam, Ada keyakinan bahwa selama anaknya masih mau berusaha, sebagai orang tua tidak boleh berhenti memberikan dukungan.

“Kadang orang hanya melihat hasil akhirnya. Mereka tidak tahu bagaimana proses yang kami lalui” begitulah kira-kira gambaran perasaan yang tersimpan dalam hati kedua orang tua Agil.

Tidak sedikit pula ocehan dari berbagai arah yang sempat meragukan perjuangan tersebut. Ada yang mempertanyakan, ada yang meragukan, bahkan mungkin ada yang menganggap perjuangan itu terlalu panjang.

Namun semua itu tidak membuat Kusmawandi menyerah.
Dirinya justru memilih tetap mendampingi anak tercintanya.

Bersama sang istri, Etaherawati Laise, mereka menyimpan banyak cerita selama Agil menjalani proses seleksi. Cerita tentang rasa lelah, kecemasan, harapan, kekecewaan dan kembali bangkit.

Dua kali mencoba Polisi. Empat kali mencoba TNI.
Dan akhirnya, pada perjuangan keempat di jalur TNI, Tuhan menjawab doa mereka.

Air mata yang dahulu jatuh karena kegagalan, akhirnya berubah menjadi air mata kebahagiaan.

Sujud dan doa yang selama ini dipanjatkan kedua orang tua, akhirnya menemukan jawaban.

Agil dinyatakan berhasil dan kini resmi menjadi prajurit TNI berpangkat Prada.

Perjuangan panjang itu dimulai sejak 2022 hingga 2025. Dari seluruh proses yang dijalani, terdapat 645 peserta yang kemudian tersebar dalam penempatan di Kodam III, Kodam IV, dan Kodam V.
Kini, Agil mendapat tugas di Surabaya, Kodam V/Brawijaya, Provinsi Jawa Timur.

Bagi Agil, mungkin seragam itu adalah tanda dimulainya pengabdian.
Namun bagi kedua orang tuanya, seragam itu adalah jawaban dari perjalanan panjang yang penuh air mata.

Etaherawati Laise bahkan mengaku, sampai saat ini masih sering teringat bagaimana anaknya berjuang dari satu proses ke proses lainnya.

Sebab seorang ibu tidak pernah benar-benar lupa bagaimana anaknya jatuh, kecewa, kemudian kembali berdiri.

Hari ini, ketika melihat anaknya mengenakan seragam TNI, mungkin tidak semua orang tahu apa yang telah dilalui keluarga.

Mereka tahu berapa banyak keringat yang telah keluar, Mereka tahu berapa banyak air mata yang pernah disembunyikan dan mereka tahu, berapa panjang doa yang telah dipanjatkan.

Enam kali mencoba bukan berarti enam kali kalah.
Kadang Tuhan memang meminta seseorang mengetuk pintu berkali-kali, sebelum akhirnya membukakan pintu yang tepat.

Perjalanan Agil menjadi pengingat bahwa kegagalan bukan akhir dari sebuah perjuangan.

Selama masih ada kemauan untuk mencoba, dukungan orang tua dan doa yang tidak pernah putus, selalu ada kemungkinan bagi sebuah impian untuk menemukan jalannya.

Kini Agil telah berangkat menjalankan tugasnya jauh dari rumah.
Ia membawa seragam, amanah dan tanggung jawab sebagai seorang prajurit.

Sementara di rumah, kedua orang tuanya mungkin hanya bisa menitipkan satu pesan dalam setiap doa:

“Pergilah mengabdi, Nak. Jadilah kebanggaan bukan hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi bangsa dan negara. Kami sudah melihat perjuanganmu. Kini tunjukkan bahwa semua air mata itu tidak pernah sia-sia.”

(HT)*

Komentar Facebook

Baca Juga

Kawal Aspirasi Rakyat, Wakil Ketua Dan Anggota DPRD Hadiri Musrembang

Bagikan Berita iniPILARBMR.COM, BOLSEL- Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) kabupaten Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel) hadiri …

Kebakaran Lahan Mengancam Perkebunan Warga Tonala, Warga Berjibaku Jinakkan Api

Bagikan Berita iniPILARBMR.COM, BOLSEL – Kobaran api sempat melanda lahan perkebunan milik warga di Desa …