PILARBMR.COM, BOLSEL – Usia 177 tahun bukan sekadar angka dalam perjalanan sejarah Kecamatan Bolaang Uki. Di balik panjangnya perjalanan waktu, tersimpan warisan leluhur, nilai-nilai adat, dan identitas budaya yang menjadi akar kehidupan masyarakat. Warisan itulah yang harus terus dijaga, agar kemajuan zaman tidak membuat generasi muda kehilangan jati dirinya.
Pesan tersebut ditegaskan Bupati Bolaang Mongondow Selatan, Dr. (C) H. Iskandar Kamaru, S.Pt., M.Si., saat bertindak sebagai inspektur upacara pada peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-177 Kecamatan Bolaang Uki Tahun 2026, Selasa (27/10/2026), di Alun-Alun Molibagu.
Bersama Wakil Bupati Deddy Abdul Hamid, Bupati Iskandar menghadiri momentum bersejarah tersebut sebagai bentuk penghormatan terhadap perjalanan panjang Bolaang Uki, sekaligus penegasan bahwa pembangunan daerah tidak boleh berjalan dengan melupakan akar sejarah dan kebudayaan yang membentuk identitas masyarakatnya.
Kehadiran keduanya turut didampingi Ketua TP-PKK Kabupaten Bolsel, Ny. Hj. Selpian Kamaru-Manoppo, serta Sekretaris TP-PKK, Ny. Rosdiana Abdul Hamid Lapatola.
Dalam sambutannya, Iskandar menegaskan bahwa peringatan HUT ke-177 Bolaang Uki tidak seharusnya berhenti pada seremoni dan kemeriahan perayaan. Lebih dari itu, momentum ini harus menjadi ruang refleksi untuk memahami kembali sejarah, merawat persaudaraan, dan memperkuat tanggung jawab bersama dalam mewariskan nilai-nilai luhur kepada generasi penerus.
Menurutnya, Bolaang Uki memiliki perjalanan sejarah dan kedudukan penting dalam pembentukan identitas daerah. Karena itu, sejarah tidak boleh hanya tersimpan dalam ingatan orang-orang tua atau menjadi cerita yang perlahan terlupakan, tetapi harus diwariskan melalui langkah nyata yang dapat dipelajari dan dipahami oleh generasi muda.
“Jangan sampai generasi mendatang kehilangan jati dirinya,” menjadi pesan penting yang mengemuka dalam peringatan tersebut.
Museum Daerah dan Bahasa Bolaang, Menjaga Warisan agar Tak Tergerus Zaman.
Sebagai wujud komitmen terhadap pelestarian sejarah, Pemerintah Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan akan mengupayakan pembangunan museum daerah yang diharapkan menjadi ruang penyimpanan, perlindungan, dan pembelajaran mengenai peninggalan sejarah kerajaan serta perjalanan peradaban masyarakat Bolsel.
Keberadaan museum daerah diharapkan bukan sekadar menjadi tempat menyimpan benda-benda bersejarah, melainkan juga menjadi jembatan yang menghubungkan generasi masa kini dengan kisah perjuangan, kebudayaan, dan identitas para pendahulu.
Upaya menjaga warisan leluhur juga diarahkan pada pelestarian bahasa Bolaang. Pemerintah daerah mendorong penyusunan dan peluncuran buku pembelajaran bahasa Bolaang sebagai muatan lokal wajib di sekolah-sekolah.
Langkah tersebut menjadi penting karena bahasa daerah bukan hanya alat komunikasi, melainkan juga wadah yang menyimpan nilai, pengetahuan, dan cara pandang suatu masyarakat. Ketika bahasa daerah semakin jarang digunakan dan diwariskan, sebagian dari kekayaan budaya pun berisiko ikut memudar.
Karena itu, pelestarian sejarah dan bahasa harus berjalan beriringan dengan pendidikan. Generasi muda perlu diberi ruang untuk mengenal asal-usulnya, memahami budayanya, dan menumbuhkan kebanggaan terhadap identitas daerahnya sendiri.
Di tengah tuntutan pembangunan dan perubahan zaman, Iskandar juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus menjaga kerukunan, mempererat persaudaraan, serta menghidupkan nilai saling menghormati, menguatkan, dan menyayangi.
Baginya, adat dan budaya bukan sekadar peninggalan masa lalu yang dikenang setiap kali perayaan hari ulang tahun daerah tiba. Keduanya merupakan fondasi pembentukan karakter masyarakat sekaligus bekal moral dalam menghadapi tantangan masa depan.
Pembangunan, menurut pesan yang disampaikan dalam momentum tersebut, tidak cukup hanya diukur melalui kemajuan fisik. Pembangunan juga harus mampu menjaga nilai kemanusiaan, memperkuat persatuan, dan memastikan bahwa identitas budaya tetap hidup di tengah masyarakat.
Peringatan HUT ke-177 Bolaang Uki pun menjadi pengingat bahwa perjalanan panjang sejarah harus melahirkan tanggung jawab yang lebih besar: menjaga warisan leluhur tanpa menutup diri terhadap kemajuan.
Sebab, daerah yang besar bukan hanya daerah yang mampu bergerak maju, melainkan juga daerah yang mengetahui akar sejarahnya, menghormati perjuangan pendahulunya, dan sanggup mewariskan nilai-nilai terbaik kepada generasi berikutnya.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), pejabat instansi vertikal, Sekretaris Daerah, pimpinan organisasi perangkat daerah (OPD), para camat, sangadi, tokoh adat, tokoh masyarakat, serta peserta upacara.
HUT ke-177 Bolaang Uki menjadi momentum untuk meneguhkan kembali satu pesan penting: zaman boleh berubah, pembangunan harus terus bergerak, tetapi jati diri dan warisan leluhur jangan sampai hilang ditelan waktu.
(HT)*
PilarBMR | Portal Berita Online Portal Berita Online
