PILARBMR.COM, BOLSEL – Polemik transparansi pengelolaan dana pembangunan Masjid di Desa Salongo Barat, Kecamatan Bolaang Uki, Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel), memasuki babak baru. Ketua Panitia Pembangunan Masjid, Yoslan Nur, akhirnya angkat bicara menanggapi desakan Badan Permusyawaratan Desa (BPD) terkait laporan pertanggungjawaban (LPJ) dana pembangunan.
Yoslan menegaskan, dirinya tidak pernah berniat menyembunyikan informasi mengenai dana yang dihimpun untuk pembangunan masjid, termasuk progres pekerjaan maupun jumlah dana yang terkumpul.
Menurutnya, selama proses penggalangan dana berlangsung, informasi mengenai dana yang masuk bahkan disampaikan secara terbuka kepada jamaah dan masyarakat melalui pengeras suara masjid setiap Minggu.
“Setiap Minggu saya sampaikan di toa masjid terkait dana yang terkumpul. Jadi saya tidak pernah menyembunyikan hal-hal yang tidak baik terkait pembangunan masjid” tegas Yoslan
Dirinya menjelaskan, sejak awal penggalangan dana, setiap tahapan telah direncanakan melalui musyawarah. Penggalangan dana tahap pertama, kata dia, telah dibahas bersama dan diarahkan untuk pekerjaan pemasangan paving.
Sementara untuk penggalangan dana tahap kedua, Yoslan mengaku sebenarnya telah merencanakan musyawarah untuk membahas progres pekerjaan sekaligus penggunaan dana yang terkumpul.
“Penggalangan dana tahap pertama untuk pemasangan paving sudah dimusyawarahkan. Penggalangan dana tahap kedua juga sudah selesai dan rencananya akan kembali dimusyawarahkan” jelasnya
Namun, rencana tersebut belum sempat dilaksanakan.
Yoslan mengatakan, kondisi itu berkaitan dengan pekerjaan pembangunan yang masih berjalan. Ia mengaku mengajukan perpanjangan karena pekerjaan masih dilakukan oleh tenaga atau pihak pekerja yang telah melaksanakan pembangunan sebelumnya.
Ia juga mengaku khawatir sisa anggaran yang berada di tangan bendahara akan habis sementara pekerjaan masih berlangsung.
“Karena pekerjaan sementara berlanjut, saya takut sisa anggaran yang ada di bendahara habis. Makanya saya langsung mengajukan perpanjangan” ujarnya
Persoalan kemudian semakin memanas setelah atribut berupa baliho di posko penggalangan dana disebut mengalami kerusakan.
Yoslan mengaku kecewa dengan kejadian tersebut. Ia menilai persoalan pembangunan masjid seharusnya dapat diselesaikan melalui komunikasi dan musyawarah, bukan dengan tindakan yang justru memperkeruh keadaan.
“Saya sudah mulai melakukan penggalangan dana, kemudian ada oknum yang merusak atribut baliho di posko penggalangan dana. Ini kan aneh sekali” katanya
Di tengah polemik tersebut, Yoslan juga mengaku mendapat teguran keras dari salah seorang tokoh masyarakat yang datang ke rumahnya dan mempertanyakan persoalan pembangunan masjid.
Meski kecewa, ia mengatakan tetap menghargai tokoh masyarakat tersebut.
Namun, akumulasi persoalan itu membuat Yoslan mengambil keputusan untuk mengundurkan diri dari kepanitiaan pembangunan masjid.
“Saya menghargai beliau. Karena itu saya sudah memutuskan mundur dan tidak lagi berurusan dengan perbaikan masjid” ungkapnya
Yoslan kembali menegaskan bahwa hingga keputusan pengunduran dirinya diambil, dirinya belum melakukan musyawarah terkait penggunaan dana pada penggalangan tahap kedua.
Dengan demikian, menurutnya, dana hasil penggalangan tahap kedua belum ditetapkan penggunaannya melalui musyawarah.
Di sisi lain, Yoslan memastikan dokumen laporan yang telah dibuat dan disampaikan kepada pihak terkait tetap tersedia. Ia menyebut laporan tersebut juga telah berada di tangan BPD Salongo Barat.
“Laporan yang saya ajukan ke dinas terkait sudah ada. Mukin juga sudah ada di tangan BPD. Laporan yang saya sampaikan sesuai dengan realita di lapangan dan selama pekerjaan berjalan kurang lebih tiga bulan” jelasnya
Ia menilai, jika seluruh proses dilihat dari awal, pembangunan sebenarnya telah berjalan melalui tahapan yang semestinya. Menurutnya, persoalan dapat diselesaikan apabila semua pihak mengedepankan komunikasi dan musyawarah.
Yoslan pun membeberkan setidaknya tiga hal yang menurutnya menunjukkan adanya keterbukaan dalam pengelolaan pembangunan.
Pertama, penggalangan dana tahap pertama untuk pemasangan paving telah dimusyawarahkan.
Kedua, penggalangan dana tahap kedua telah selesai dan menurut rencana akan kembali dibawa dalam forum musyawarah.
Ketiga, informasi mengenai dana yang terkumpul setiap Minggu telah disampaikan kepada masyarakat melalui pengeras suara masjid.
“Setiap Minggu pembacaan anggaran yang terkumpul sudah disampaikan. Jadi, masih apa yang kami sembunyikan?” kata Yoslan
Meski menyampaikan klarifikasi, Yoslan mengaku menyayangkan munculnya persoalan yang menurutnya sebenarnya masih dapat diselesaikan secara baik-baik.
Ia berharap masyarakat tidak terpecah hanya karena persoalan pembangunan rumah ibadah.
“Sebenarnya ini sudah berjalan bagus, cuma memang ada sebagian pihak yang mungkin memiliki persoalan sehingga ini menjadi sulit. Seharusnya bisa diselesaikan baik-baik” ujarnya
Ia juga memberikan apresiasi kepada BPD Salongo Barat yang telah mengambil langkah untuk mendorong adanya kejelasan terkait pengelolaan pembangunan masjid.
“Saya juga mengapresiasi BPD Salongo Barat yang sudah melangkah sejauh ini” pungkasnya.
Polemik ini kini menyisakan satu kebutuhan utama: keterbukaan seluruh dokumen, pencocokan antara dana masuk dan penggunaan, serta musyawarah terbuka yang dapat diikuti pihak-pihak terkait.
Dengan begitu, persoalan pembangunan masjid tidak berhenti pada saling klaim, melainkan dapat diselesaikan berdasarkan data, laporan, dan keputusan bersama masyarakat.
(HT)*
PilarBMR | Portal Berita Online Portal Berita Online
