PILARBMR.COM, BOLSEL – Harga solar subsidi di SPBU Soguo, Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel), menjadi sorotan. Di tengah keluhan sopir yang mengaku sulit mendapatkan solar dengan harga resmi sekitar Rp6.800 per liter, muncul dugaan solar tersebut justru beredar melalui jalur tertentu dengan harga mencapai Rp11 ribu hingga Rp15 ribu per liter.
Pertanyaan sederhana, namun sanga serius,, jika harga resmi Rp6.800, bagaimana solar subsidi bisa sampai ke tangan konsumen dengan harga lebih dari dua kali lipat? Siapa yang bermain dan siapa yang menikmati selisihnya?
Sejumlah sopir ekspedisi mengaku kerap kesulitan memperoleh solar. Mereka menyebut, ketika stok di SPBU dinyatakan habis, solar diduga masih dapat diperoleh melalui jalur tertentu dengan harga jauh lebih tinggi.
“Ketika disebut stok habis, kemudian ada yang menawarkan solar dengan harga jauh lebih mahal” ungkap seorang sopir
Persoalan lain yang ikut mencuat adalah penggunaan barcode dan kuota pengisian. Sejumlah sopir mempertanyakan mengapa ada kendaraan yang disebut kesulitan menggunakan sisa kuota setelah pengisian sebagian, sementara kendaraan tertentu diklaim masih dapat kembali mengisi pada hari yang sama.
Jika benar terjadi, kondisi tersebut patut diperiksa. Sebab, data barcode dan histori transaksi seharusnya dapat menunjukkan siapa yang mengisi, berapa banyak, kapan pengisian dilakukan, serta berapa kali kendaraan melakukan transaksi.
Dugaan tersebut semakin panas setelah muncul informasi yang menyeret nama ZM alias Zulkifli, seorang anggota DPRD Bolsel.
Sumber yang meminta identitasnya dirahasiakan pun menyebut adanya dugaan setoran dari Iwan alias IT yang dikaitkan dengan aktivitas penjualan kembali solar bersubsidi.
“Setoran Iwan untuk solar ke oknum anggota DPRD sebagai pemilik SPBU, ZM alias Zulkifli” kata sumber
Namun, tudingan tersebut belum terbukti secara hukum. Penyebutan nama tersebut masih sebatas informasi dari sumber dan perlu diuji melalui penyelidikan serta bukti yang sah.
Media telah berupaya meminta klarifikasi kepada Zulkifli, namun hingga berita ini diterbitkan belum memberikan tanggapan.
Koordinator Aliansi Peduli Keadilan dan Pembangunan Daerah, Farwan Manoppo, meminta aparat penegak hukum tidak berhenti pada persoalan di tingkat operator SPBU.
“Kalau memang ada permainan, telusuri seluruh rantainya. Siapa yang mengambil, menjual kembali, menjadi penghubung dan menerima keuntungan harus dibuktikan” tegas Farwan
Sementara itu, Penanggung Jawab SPBU Soguo, Har Bunsal, memastikan harga solar di SPBU tetap Rp6.800 per liter. Ia mengaku belum mengetahui adanya dugaan solar yang kemudian diperjualbelikan hingga Rp15 ribu per liter.
Kasat Reskrim Polres Bolsel, Iptu Iqbal Putra Saimuri, menyatakan informasi mengenai dugaan tersebut akan ditindaklanjuti.
Siapa di Balik Selisih Harga?
Kini publik menunggu langkah konkret aparat.
Jika dugaan ini hendak dibongkar secara terang, pemeriksaan dapat diarahkan pada data barcode, CCTV, histori transaksi BBM, identitas kendaraan, pola pengisian, volume solar yang keluar, hingga dugaan aliran uang.
Sebab, jika solar subsidi benar-benar keluar dengan harga resmi Rp6.800 kemudian diperjualbelikan kembali hingga Rp15 ribu, maka ada selisih harga yang sangat besar dan pertanyaan tentang siapa yang menikmati keuntungan tersebut tak bisa dibiarkan menggantung.
Dari Rp6.800 menjadi Rp15 ribu. Siapa yang bermain? Siapa yang mengatur? Dan siapa yang menikmati keuntungan?
Jawabannya kini menunggu pembuktian aparat penegak hukum.
(HT)*
PilarBMR | Portal Berita Online Portal Berita Online
