Dari Saf Subuh ke Pusara Marwan, PWI Bolsel Titip Pesan: “Jangan Benci Kami”

Bagikan Berita ini

PILARBMR.COM, BOLSEL — Ada yang berbeda dalam Program Ibadah Subuh Bersama (PISB) Pemerintah Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel), Kamis (10/9/2026).

Pagi itu, bukan hanya imam dan penceramah yang datang dari kalangan wartawan. Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Bolsel dipercaya menjadi pelaksana seluruh rangkaian kegiatan.

Namun, di balik saf Subuh yang rapat, Ketua PWI Bolsel Viko Karinda membawa sebuah pesan yang jauh lebih dalam dari sekadar sambutan.

Ia berbicara kepada para pejabat bukan sebagai orang yang sedang meminta sesuatu.

Ia berbicara sebagai seorang wartawan yang setiap hari berdiri di antara kekuasaan dan suara rakyat.

Dengan nada yang tenang, Viko menyampaikan kalimat yang sederhana, tetapi terasa berat.

“Jangan benci kami. Jangan musuhi kami. Ajak kami berteman.”

Ia kemudian melanjutkan:

“Kami tidak meminta uang. Kami tidak meminta fasilitas. Jangan berikan kami uang, tapi berikan kami informasi.”

Kalimat itu seolah menghentikan sejenak suasana pagi.

Sebab yang diminta PWI bukan perlakuan istimewa.

Hanya pintu komunikasi yang jangan ditutup.

Viko mengaku memahami bahwa tidak semua berita menyenangkan untuk dibaca, tidak semua pertanyaan wartawan nyaman untuk dijawab, dan tidak semua kritik mudah diterima.

Tetapi, katanya, wartawan bukan musuh pemerintah.

“Kalau kami datang membawa pertanyaan, jangan lihat kami sebagai orang yang datang untuk menjatuhkan. Kami datang karena ada sesuatu yang harus kami tanyakan. Ada sesuatu yang harus diketahui masyarakat,” ujarnya.

Menurutnya, wartawan bisa saja keliru. Pemerintah pun bisa saja keliru. Karena itu, ruang dialog harus selalu terbuka.

“Kalau kami salah, tegur kami. Kalau berita kami keliru, beri kami hak jawab. Kalau tulisan kami kurang tepat, luruskan kami,” kata Viko.

Lalu, dengan suara yang lebih dalam, ia menyampaikan pesan yang terasa seperti permohonan.

“Sebab ketika pejabat menutup pintu kepada wartawan, sebenarnya yang ditutup bukan pintu untuk kami. Yang ikut tertutup adalah pintu informasi untuk masyarakat.”

Ia terdiam sejenak.

Kemudian kembali berkata:

“Kami tidak ingin menjadi musuh siapa pun. Kami ingin menjadi teman pemerintah dalam menyampaikan apa yang baik kepada masyarakat. Dan kalau ada yang kurang baik, biarkan kami menyampaikannya dengan cara kami sebagai wartawan.”

Bagi Viko, kritik bukanlah kebencian.

Pertanyaan bukanlah permusuhan.

Dan berita bukanlah senjata untuk menjatuhkan seseorang.

“Jangan benci wartawannya hanya karena beritanya. Jangan musuhi kami hanya karena kami bertanya. Sebab di balik pertanyaan itu ada kepentingan masyarakat yang harus kami perjuangkan,” tegasnya.

Pesan itu mendapat apresiasi dari Asisten I Setda Bolsel, Alsyafri U. Kadullah, S.Pd., M.E., yang mewakili Bupati H. Iskandar Kamaru, S.Pt., M.Si.

Ia mengapresiasi kepercayaan kepada PWI Bolsel dalam pelaksanaan PISB dan menilai kolaborasi pemerintah dengan pers penting dalam pembangunan serta penyebarluasan informasi kepada masyarakat.

Namun pagi itu kemudian membawa semua yang hadir pada suasana yang berbeda.

Usai salat Subuh, jajaran PWI Bolsel bersama unsur pemerintah daerah berziarah ke makam almarhum Marwan Makalalag, S.Pd., mantan Kepala Dinas Kominfo Bolsel.

Di tempat itu, semua kembali terdiam.

Tidak ada lagi jabatan.

Tidak ada lagi sekat antara pemerintah dan wartawan.

Yang tersisa hanya nama, kenangan dan doa.

Pusara Marwan seakan menjadi pengingat bahwa setiap jabatan akan menemukan akhirnya.

Hari ini seseorang mungkin duduk di kursi kekuasaan. Besok, kursi itu akan ditempati orang lain.

Tetapi setelah semuanya berlalu, yang tertinggal hanyalah jejak pengabdian dan bagaimana seseorang dikenang.

Dan dari saf Subuh hingga pusara Marwan, pesan PWI Bolsel terasa semakin jelas:

Jangan benci kami.

Jika kami salah, koreksi kami. Jika kami keliru, luruskan kami. Tetapi jangan tutup pintu untuk kami.

Karena wartawan tidak meminta pejabat untuk sempurna.

Wartawan hanya meminta satu hal:

Ketika kami mengetuk pintu untuk mencari kebenaran, tolong—jangan biarkan kami mengetuk sendirian.

Sebab pada akhirnya, wartawan akan pergi, pejabat akan berganti, jabatan akan berakhir.

Tetapi informasi tetap menjadi hak rakyat, dan kebaikan tetap akan dikenang.

PISB pagi itu akhirnya bukan sekadar ibadah bersama.

Ia menjadi sebuah perjumpaan antara iman, kekuasaan, pers, kritik, persahabatan dan kenangan—sebuah pagi yang mengingatkan bahwa di balik setiap jabatan dan profesi, kita semua pada akhirnya adalah manusia yang ingin dikenang dalam kebaikan dan didoakan setelah kepergian.

(HT)*

Komentar Facebook

Baca Juga

Kawal Aspirasi Rakyat, Wakil Ketua Dan Anggota DPRD Hadiri Musrembang

Bagikan Berita iniPILARBMR.COM, BOLSEL- Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) kabupaten Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel) hadiri …

Perjuangan PBMR Bukan Mimpi Sesaat, AP3BMR Tegaskan Amanah Sejarah Tak Akan Padam

Bagikan Berita iniPILARBMR.COM, KOTAMOBAGU- Perjuangan melahirkan Provinsi Bolaang Mongondow Raya (PBMR) kembali ditegaskan sebagai agenda sejarah …